Friday, September 2, 2016

Jeneng Tuwa

Selamat malam kisanak dan nyisanak yang berbahagia. Jumpa kembali dengan saya, mas Darsono, blogger kuper yang senantiasa baper kalau nyanyiin lagunya mbekayu Christina...

 "jatuh bangun aku mengejarmu... Namun dirimu menjual tahu.....!" dah!

Pada malam hari yang cukup panas ini, sembari melihat aneka bentuk pesawat terbang yang berlalu lalang sebagaimana bayangan sang mantan, saya akan berbagi cerita tentang suatu kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk di Banyumas ini.

Budaya ini merupakan budaya turun temurun yang diwariskan oleh moyang kami. Sampai tulisan ini diposting di blog kuper ini, saya masih belum tahu persis asal muasal budaya yang akan saya sharing kepada sobat kupers semua :)

Budaya yang saya maksud adalah budaya memberikan nama baru kepada anak laki-laki yang baru saja menikah. Pemberian nama ini sering kali disebut sebegai Jeneng Tuwa. Jeneng berarti nama. Sedangkan Tuwa  berarti tua (tak muda lagi yeee).

Seperti yang pernah saya singgung pada postingan sebelumnya, bahwasanya orang Jawa itu senang berfilsafat.

Baca juga : Sedekah Bumi

Segala macam benda maupun peristiwa tak luput dari sesuatu yang bernama filsafat. Termasuk dalam pemberian nama tua ini (jeneng tuwa) juga mengandung filosofi. 

Pemberian jeneng tuwa ini bukanlah hal yang bisa dilakukan secara sembarangan oleh siapa saja. Syarat untuk mendapatkan jeneng tuwa ini adalah melalui sebuah proses yang bernama pernikahan. *Jomblo dilarang keras memakai nama ini :)   

Nah, filosofi dari jeneng tuwa ini berkaitan erat dengan pernikahan. Bagi wong jawa, menikah merupakan "jalan hidup baru" yang dimiliki oleh pasangan mempelai.

Laki-laki sebagai imam dalam rumah tangga harus menjadi contoh yang baik sekaligus harus bertanggung jawab dalam menafkahi segala kebutuhan rumah tangganya yang baru itu.

Hidup baru. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan pasangan muda yang baru saja menikah. Dan pada setiap tahap kehidupan yang baru. maka terdapat hal-hal baru juga yang tadinya belum pernah didapatkan manakala mereka belum menikah.

Pemberian jeneng tuwa ini adalah simbol "hidup baru." 

Diharapkan dengan pemberian jeneng tuwa ini, lelaki yang baru saja didaulat sebagai pemimpin rumah tangga mempunyai semangat baru, mempunyai visi misi yang baru pula dalam menapaki kehidupan selanjutnya.

Semangat baru, visi misi baru dimana ketika dia masih bujang belum mendapatkan hal-hal baru itu, ketika dia menikah, maka dia mendapatkan segala sesuatu yang "baru" dalam hidupnya.

Nama adalah do'a. Begitu kata kyai saya. Karena nama adalah do'a, maka ketika kita memberikan nama, usahakanlah nama yang akan kita berikan tersebut merupakan do'a-do'a yang berisi kebaikan-kebaikan untuk yang diberi nama tersebut.

Jeneng tuwa merupakan nama baru. Tak heran jika kita melihat akte kelahiran anak-anak yang lahir di Banyumas ini maka nama bapaknya sembilan puluh persen pasti ada aliasnya. Anak dari si A alias si B... Begitu kurang lebih kalau sampeyan pernah membaca akte kelahiran anak-anak di banyumas ini.

Setelah pesta pernikahan berakhir, biasanya pada malam hari atau keesokan malamnya diadakanlah acara pemberian jeneng tuwa ini. Berbagai makanan, terutama nasi tumpeng, disediakan dalam pemberian jeneng tuwa ini.

Tuan rumah mengucapkan selamat datang kepada para undangan. Kemudian tuan rumah membacakan/memberi tahu kepada peserta kenduren nama atau jeneng tuwa dari laki-laki yang baru saja dinikahkan tersebut.

Setelah itu dimulailah prosesi pemberian jeneng tuwa ini dengan didahului pembacaan tahlil. Setelah tahlil selesai, hidangan segera dikeluarkan. Acara selanjutnya apa mas? Ya makan-makan lah! Mbuehehehe.....

Selesai makan-makan (perwujudan dari sodaqoh), sepuruh undangan kembali pulang ke rumah masing-masing sembari memberitahukan kepada keluarga di rumah mengenai nama baru /jeneng tuwa yang telah diberikan tadi.

Contoh jeneng tuwa :

Nama aslinya SUHARTONO, jeneng tuwa-nya ATMO. Biasanya nanti di akte kelahiran atau KTP nama tersebut menjadi SUHARTONO ATMO atau ATMO SUHARTONO atau SUHARTONO alias ATMO.

Bagaimana dengan budaya di tempat kalian sob? Adakah yang seperti itu?

Salam kupers :)








24 comments:

  1. Ditempat saya gak ada yang begini mas hehe.. kok jadi kuper gini ya, gak tau ada budaya unik kek gini, harus ada jeneng tuwanya gitu ya, unik juga sih.

    Baru kali ini nih, mampir kesini, salam kenal mas :) jangan lupa mampir hehe..

    Ngomong-ngomong mas darsono, jeneng tuwanya apaan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan kewajiban sih... tapi sebagai anak kadang kita tidak enak jika menolak perintah ortu untuk dikasih jeneng tuwa :)
      Trus nama kan juga do'a, ya saya pikir ndak ada salahnya juga... hehhee...

      Salam kenal juga sob... okey, ke tekape nanti saya :)

      Akhmad :) jadinya AKHMAD DARSONO :)

      Delete
  2. Unik juga ya kang kalau didaerahnya kang darsono kalau disaya mah tidak ada kang mungkin karena jaman semakin modern jadi begini padahal jujur seru dulu deh kang dari sekarang tapi fasilitasnya mah muantappp sekarang namun kebiasaannya seru dulu masih kental gituh budayanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kang... disini masih ada..

      Hanya saja, untuk kepentingan administrasi, terutama E-KTP yang konon harus sama dengan nama yg di akte, jeneng tuwa tersebut tidak semua orang mencantumkannya di KTP dan di AKte.. termasuk saya :)

      Delete
  3. Budaya yang saya maksud adalah budaya memberikan nama baru kepada anak laki-laki yang baru saja menikah.

    Ini saya bingung mas
    Kan pas nikah belum punya anak mas
    Trus kan engga tw anak yg nikah itu nantinya cewek apa cowok?
    .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok gue ikut bingung Nik???

      Delete
    2. Niki kira yg dikasi nama itu buat anaknya pengantin, bukan pengantin lakinya, Mas. xD

      Delete
    3. Si Niki itu terlalu super bro buat yg kayak ginian... pasnya dia dijodohin sama si Rifki Benjol tuh... eh Rifki Banyol... hahahaaa....

      Delete
  4. Kok saya malah baru tau ya mas ada budaya kaya gini? Mayan nih, nambah pengetahuan.

    ReplyDelete
  5. Walaupun sama2 jawa, tapi ditempatku g ada mas budaya jenang tuwa kayak tempat jenengan.
    Walaupun sama jawanya, tetap punya ciri khas masing2

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi... Jawa memang sangat luas mbak....
      beda kampung ajah, bisa beda adat...
      sangat beragam...

      Apalagi kalau Indonesia... wuihhhh..... pastinya lebih beragam sekali.
      Saya berharap semoga para blogger berkenan menuliskan budaya2 daerahnya masing2 pada blog mereka... syukur blog khusus biar anak cucu kita minimal bisa tahu ttg budaya bangsa ini :)

      Delete
  6. Lah, baru tau ada hal kayak gitu. Budaya bener-bener beragam. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi bro...
      lagi berusaha menuliskan aneka budaya disini...
      khususnya tempat saya sendiri.
      Semoga lain waktu bisa menulis budaya daerah lain :)

      Delete
  7. oh jadi ini tuh semacam itu loh..
    kalo kata orang jepangmah nama marga,
    eh iya gasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan nama Marga bro...
      soalnya pemberian nama tsb tidak harus sama dg nama keluarga...
      bebas!
      hehehe...

      Delete
  8. jeneng tuwa. pas enom jenenge carl mbasan tuwa jenange gadol.

    ditempatku dulu kek gitu kayaknya sekarang udah gak ada, yang ada mah masih kecil juga udah dirubah sama temen-temenya.

    nama adalah doa maka beri nama yang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah kuwe.... jebule neng Kebumen ana yah kang?

      kalau nama kecil diubah sama temen, kampungku tuh terkenal dg julukan yg aneh2... bahkan ada yg diberi nama rambut yg dibawah itu lho... hadeuhhhh... kaco-kaco!

      setuju... kasih nama yg baik... :)

      Delete
  9. dengan jeneng tuwa diharapkan seorang pria tambah bijaksana ya mang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups, salah satu "makna" nya spt itu mang :)

      kan sudah berumah tangga, jadi kedewasaanpun kudu bertambah...

      eh mang, ngomong2 Cilembu, ternyata di KECAMATAN PATIKRAJA, maih di banyumas, ada yg jualan ubi Cilembu... Gedhe banged mang ubinya :)

      Delete
  10. Weleh, aku baru tahu nih, bermanfaat nih artikelnya..

    ReplyDelete
  11. Saya baru tahu ada budaya begini. bisa nambahin nama gitu ya. Tapi namanya hanya sekadar nama saja tanpa perlu formalitas pengesahan di KTP kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dulu, sebelum E-KTP, banyak nama tua yg ikutan ditulis di KTP bang...

      sekarang kagak lagi :)
      Kan harus sesuai dg nama yg ada di akte sama KTP... Kecuali ndak punya akte, biasanya ikut nyemplung tuh di KTP... syaratnya ya bikin KK dulu. Di KK, nama tuanya disertakan... baru bikin KTP baru biar nama tuanya nongol di KTP.. hehhee...

      Delete

Ini adalah tempat ngeluarin uneg-uneg.
Monggo yang mau nyerocos, saya persilahken :)

Oh ya, link hidup terpaksa saya cubit lho ...