Thursday, April 27, 2017

Selamat Jalan Pak......

Direktur Politeknik yang bersahaja itu telah kembali ke pelukan Sang Pecinta tuk slamanya.....
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

Syahdan, di suatu sore yang menawan, saya beserta beberapa mahasiswa lainnya sedang bersenda gurau di depan teras kampus.
Kampus yang juga menjadi kantor Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Banyumas tersebut selalu ramai di setiap akhir pekan, terutama menjelang ashar.
Di jam seperti itulah biasanya kami bersantai menikmati sore sembari bercerita ini dan itu...Jarang membahas materi perkuliahan bro... Ndak guna! Hehehhee...
Lagi asyik-asyiknya ngobrol, perlahan sebuah angkot berhenti di depan kampus.
Seorang lelaki tua dengan tas jinjing ala pemuda tahun 70-an turun dari angkot tersebut.
Celana "cutbre" dan gaya rambut yang "tanpa gaya" menjadi salah satu ciri lelaki tinggi dan kurus tersebut.

Wajah "sangar" dengan kumis tebal melintas menjadi daya tarik tersendiri bagi kami.
Setelah membayar pada supir, kulihat lelaki itu sesekali batuk ketika mulai melangkahkan kakinya. Usianya tiada lagi muda...
Kata petugas administrasi di kampusku, lelaki tua yang masih tampak gagah itu adalah mantan salah satu pejabat di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Pejabat?
Sungguh pertanyaan yang menggelitik hati saya....
Perlu kalian ketahui, sekelas karyawan (bukan dosen lho) yang bekerja di sana saja bisa dengan mudah membeli mobil... Tapi lho kok orang ini malah ngangkot saban hari?


Entahlah....
Seingatku, Beliau memang punya mobil. Tapi jangan membayangkan kalau mobilnya adalah mobil yang wah! Tidak....Dan seingatku juga, paling sebulan atau bahkan dua bulan sekali lelaki tua ini berangkat ke kampusku menggunakan mobilnya... Padahal rumahnya terbilang jauh dari kampus tempat kuliahku itu.
Lelaki tua yang sederhana itu adalah Direktur Politeknik kami, Bapak Saechan....
Konon, berdirinya kampus kami dan juga politeknik Cilacap tak bisa dilepaskan dari peran Beliau.

Kembali ke cerita....
Tanpa dikomando siapapun, aku dan teman-teman kuliahku berdiri menyambut Beliau...

Assalaamu 'alaikum....
Salam yang begitu tulus dengan wajah yang "biasa-biasa saja" (Beliau jarang tersenyum soalnya... Hehehehe) terucap dari Beliau.
Sontak kami menjawab salam tersebut... Tanpa babibu, satu persatu dari kami mencium tangan Beliau yang... ah, kasar ternyata..... Dan itupun menjadi salah satu pertanyaan batinku...
Dalam lain waktu, saya diajak oleh salah satu teman kuliahku, Barok namanya, untuk bersilaturahmi ke dalemnya Beliau.
Temanku Barok itu, mau menjagokan diri menjadi perangkat desa di kampungnya. Berhubung kuliahnya belum selesai, ia bermaksud meminta tanda tangan pada lembaran kertas yang bertuliskan "Surat Keterangan Kuliah."

"Wong sudah jelas-jelas kuliah, ngapain pakai surat keterangan rok? esih peteng apa?" (masih gelap apa). Ledek ku ke Barok...

"Halah mbuh!" Jawab dia... Enek kayaknya dia.. hahahhaaa....

Dengan menggunakan sepeda motor matic ku, meluncurlah kami ke dalemnya pak Saechan, direktur politeknik kami.

Berhubung kami belum tahu dalemnya, kamipun bertanya ke si anu dan si itu.
Tak lama, sampailah kami di dalemnya Beliau.
Lagi-lagi, bayangan ku salah... Rumah Beliau tak seperti yang aku bayangkan...
Beberapa anak muda sedang mengutak-atik mobil di depan rumah Beliau.
Yupz, ternyata bagian depan rumah Beliau dijadikan sebagai bengkel. (Ndak tahu sekarang masih ada apa tidak).

Dengan mengenakan sarung dan menggunakan kaos oblong yang kelewat sederhana menurutku, Beliau menemui kami berdua.

Ah, sungguh pemandangan yang lagi-lagi menohok hati. Seorang direktur dan mantan pejabat kampus kok sesedehana ini.... Ah, jadi malu saya :(

"Mau daftar jadi perangkat mas?" Tanya Beliau ke Barok.
"Injih pak... Ikhtiar..." Jawab barok.
"Kalau ikhtiar yang sungguh-sungguh!"
Singkat tapi begitu dalam kata-kata Beliau itu.

Begitu Beliau selesai menandatangani surat keterangan kuliah tersebut, Beliau menasihati kami agar tetap bersemangat dalam mencari ilmu, khususnya kuliah kami di politeknik. Jangan sampai ndak selesai... Kata Beliau.

Sebenarnya masih banyak lagi cerita-cerita perihal kesederhanaan, perjuangan, dan aneka cerita lainnya yang masih tersisa.
Tapi belum bisa aku ceritakan semuanya disini....
Pagi ini, aku baru membuka WA......
Dan grup politeknik berada di urutan pertama...
Dan inilah pesan yang langsung muncul di grup tersebut :



"Innalilahi wa inalillahi rojiun.
Telah berpulang ayahanda kami tercinta Drs. H. Saechan,MSc pd hari rabu,26 April 2017 jam 23.41. Jenazah di semayamkan di rumah duka Jln Suparto 37 Purwosari. Dan akan di kebumikan di pemakaman umum desa Nusajati kec Sampang Cilacap berangkat dari rmh duka pukul 09.00 WIB"


Pesan tersebut muncul di beranda paling atas di grup itu.
Tiba-tiba, bayangan wajah Beliau yang tegas dan sederhana langsung muncul dihadapanku.... Beragam cerita tentang Beliau seakan terajut satu demi satu...
Melalui tulisan ini, saya sampaikan terima kasih yang tiada terhingga untuk Bapak :(
Bapak bukan hanya guru, dosen ataupun direktur... Tapi Bapak adalah ayah bagi kami semua di kampus...

Selamat jalan pak :(


اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ. اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا. اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَاَحْيِهِ عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلاِيْمَانِ. اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.


8 comments:

  1. Semoga amal dan ibadahnya, di terima di sisi Alloh ya mas dar...

    ReplyDelete
  2. Semoga amal ibadanya diterima oleh Allah Swt. Semoga keluarga yang ditinggalkan bisa menerimanya dengan tabah..

    Mendengar kabar duka itu menjadi pengingat buat diri, sebelum bertemu dengan ajal, mari sama-sama mengumpulkan bekal selama di dunia..

    ReplyDelete
  3. Turut bersimpati.. semoga keluarga dan kerabat-kerabat yang ditinggalkan diberi kekuatan. Amin..

    ReplyDelete
  4. Turut berduka, mas :(

    Kesederhanaan yang luar bisa dan patut ditiru dari beliau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yupz...

      Beliau benar2 GURU SEJATI...

      Semoga saya dan kawan2 kampus saya bisa mempraktekan kesederhanaan Beliau...

      Delete

Ini adalah tempat ngeluarin uneg-uneg.
Monggo yang mau nyerocos, saya persilahken :)

Oh ya, link hidup terpaksa saya cubit lho ...